新闻是有分量的

Kemdag:Konsumen Indonesia masih rentan untuk dieksploitasi

2016年4月27日11:01 PM发布
2016年6月2日下午8:05更新

HARI KONSUMEN NASIONAL。 Lembaga Perlindungan Konsumen Lampung(LPKL)memperingati Hari Konsumen Nasional 2016 di Bandar Lampung,Lampung pada Rabu,4月20日。 Foto oleh Tommy Saputra / ANTARA

HARI KONSUMEN NASIONAL。 Lembaga Perlindungan Konsumen Lampung(LPKL)memperingati Hari Konsumen Nasional 2016 di Bandar Lampung,Lampung pada Rabu,4月20日。 Foto oleh Tommy Saputra / ANTARA

印度尼西亚雅加达- Konsumen印度尼西亚ternyata masih termasuk ke dalam golongan yang lemah jika berhadapan dengan produsen maupun penyedia layanan jasa。 Tingkat pengaduan konsumen双关语tergolong rendah。 Kebanyakan juga tidak meluangkan waktu membaca keterangan produk。

“Konsumen Indonesia harus sadar akan kualitas produk sehingga hal tersebut akan mendorong industri dalam negeri untuk meningkatkan mutu,kata Menteri Perdagangan Thomas Trikasih Lembong dalam puncak perayaan Hari Konsumen Nasional pada Selasa,4月26日。

Menurut Tom Lembong,konsumen cerdas juga mampu membatasi diri dengan mengonsumsi hanya sesuai kebutuhan。 Pemerintah juga akan menggunakan informasi digital untuk mengedukasi konsumen dan mempercepat penyebaran informasi。

Hasil pemetaan Indeks Keberdayaan Konsumen(IKK)印度尼西亚yang dilakukan Kementerian Perdagangan menunjukkan nilai IKK Indonesia tahun 2015 hanya sebesar 34,17 dari nilai maksimal 100. Nilai tersebut masih jauh lebih rendah dibandingkan nilai perhitungan IKK di 29 negara Eropa pada tahun 2011 yang sudah mencapai 51 ,31。

Mendag Tom menjelaskan,dengan nilai IKK 34,17 menunjukkan bahwa keberdayaan konsumen Indonesia baru berada pada level paham。 Artinya,konsumen印度尼西亚sudah mengenali dan memahami hak dan kewajibannya sebagai konsumen,tetapi belum sepenuhnya mampu menerapkan dan memperjuangkannya。 Akibatnya,konsumen印度尼西亚menjadi sangat rentan untuk dieksploitasi。

“Pemerintah mengajak seluruh konsumen Indonesia agar menjadi konsumen yang kritis dan mampu berperan aktif dalam memperjuangkan haknya sebagai konsumen,”ujar Tom。

Salah satu fakta konsumen Indonesia belum mampu memperjuangkan haknya dapat dilihat dari perilaku konsumen dalam mengadu ketika terjadi masalah。 Dari 1 juta penduduk Indonesia,jumlah pengaduan konsumen hanya sebesar 4,1。

Sementara di Korea Selatan,jumlah pengaduan konsumen di setiap 1 juta penduduk sudah mencapai 64 pengaduan。 Hal ini menunjukkan konsumen韩国Selatan tidak ragu untuk melakukan pengaduan。

Apabila ditelusuri lebih jauh lagi,rendahnya perilaku pengaduan konsumen disebabkan kurangnya pengetahuan konsumen terhadap institusi perlindungan konsumen yang ada。 Dari survei lain yang dilakukan Kemendag,diketahui hanya 22,2%masyarakat Indonesia yang mengetahui institusi perlindungan konsumen,termasuk mengetahui fungsi dan peranannya。

Sebanyak 38,6%masyarakat印度尼西亚hanya kenal terhadap institusi perlindungan konsumen,tetapi tidak tahu fungsi dan peranan institusi tersebut。 Bahkan,sebanyak 39,2%masyarakat印度尼西亚tidak mengetahui sama sekali mengenai institusi perlindungan konsumen。

Terkait hal tersebut,Mendag Tom menegaskan bahwa institusi perlindungan konsumen masih perlu diperkuat agar lebih dikenal dan dapat memberi manfaat yang nyata bagi konsumen Indonesia。 - Rappler.com

BACA JUGA: